Precious Musing

Ibu ...
Senandung tentangmu tak kan pernah luntur
Bait demi bait puisi berirama menyanjung kemuliaanmu
Tak hanya sekedar bahasa kata, tetapi juga bahasa hati
Namun..beribu kata terucap, berjuta nada terlantun, bergelimang keringat dan darah bersimbah..
Tak kan pernah menyamai kasihmu pada anakmu
Tak hanya sekedar kata, tak hanya sekedar rasa
Tapi darah dan nyawa kau tumpahkan demi kasihmu pada anakmu
Padahal, darah ini adalah darahmu jua,
Keringat ini adalah simbah keringatmu jua
Bahkan..jiwa ini ada dalam belaimu
Tak ada, tak kuasa, ibunda..
________________________________________________________

Tertatih langkahmu meniti jalan setapak demi setapak
Demi hati sepenuh sabar, dengan jiwa sepenuh ikhlas,
Dengan rasa penuh asa, demi terlahir anak bangsa,
Demi tersambung generasi Rabbani..
Sedang aku terlena dalam pelukmu, dalam belai kasihmu, dalam kehangatan senandungmu..
Sembilan bulan bukanlah waktu yang sekejap
Hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan,
Kau langkahi dengan penuh ketegaran tanpa keluhan
Tak kau rasa segala kesah, tak kau gubris segala lemah,
Langkahmu tetap tegar, hingga perjuangan antara nafas dan pintu kesyahidan
_________________________________________________________

Detik demi detik kau berikan untuk anakmu
Dalam do'amu kan selalu sebut namaku
Agar aku menjadi penerus generasi
Gulita malam menjadi kawan belaimu
meninabobokanku yang memaksamu membuka mata
Bahkan aku menjadi penggoda kekhusyu'an sujudmu menghadap Rabbul Izzati
Dan semuanya itu menjadi kawan setiamu dalam langkah hidupmu
_________________________________________________________

Tak ada kata "ah" yang pantas terucap bagimu
sedang, aku "menghardikmu" dengan kenakalanku
namun, yang ku lihat hanya senyuman di wajahmu
seraya bergumam "mujahidku sedang berjuang menuju kematangan"
Kasih ibunda sepanjang jalan, kasih anak hanya sepenggalan
mungkin lidahku lebih tajam dari pedang yang ada di depanmu
bahkan..aku seringkali berontak bersama jiwaku untuk menentangmu
Namun, yang ku dapati adalah siraman nasehat dengan kata-kata bijak dengan penuh harap "engkau kelak akan menjadi generasi mujahidmampukah?"
Bahkan.. hanya sekedar mengiringi langkahnya pun, aku tak mampu
menjagamu di masa penantianmu, aku tak sabar
apakah daya ini tuk memenuhi panggilan Illahi, adakah?
atau, lidah ini kelu untuk melafadzkan do'a bagimu?
Padahal.. tak ada pamrih yang kau gantungkan di pundakku
tak ada yang berlaku bagi diriku, kecuali.. renungan dari Rabb-ku..
_________________________________________________________

Kemuliaanmu berbuah pintu surga bagi anakmu
bukan hanya telapak kakimu yang menjadi gerbangnya
tetapi.. setiap pori-pori kulitmu adalah jendelanya
Tanah yang kau pijak adalah saksi perjuanganmu
keringat yang membasahi pori-porimu adalah bukti ketegaranmu
Karenanya pula, ridhamu adalah ridha Allah jua
Rasul terkasih telah mewanti-wanti itu,
agar diriku menjadi generasi sebagai harapanmu
agar jiwa keikhlasanmu, agar jiwa ketegaranmu, jiwa bijakmu dan kebesaranmu menjadi cahaya penerang jiwaku
dalam menyusuri jalan-jalan terjal kehidupan
Agar pesan-pesan Rabbani yang kau tanam, agar nilai-nilai yang kau didik, agar benih-benih keshalehan yang kau semai,
tumbuh subur menjadi pohon rindang yang menaungi,
yang berbuah kesejukan dan manfaat bagi setiap jiwa
Nafas harummu menjadi angin segar bagi setiap kepenatan jiwa.. Semoga ..
_________________________________________________________

Maafmu adalah harapku dari segala salah dan khilafku
karena kekerdilan diriku yang tak mampu menunaikan pesan-pesan Illahi
karena kebebalanku yang tak acuh akan siraman nasehatmu
karena keangkuhanku yang tak pernah kau ajarkan telah mematikan mata hatiku
Menghitung detik-detik pengorbananmu karena ikatan dunia yang telah melalaikanku dari mengingat dan bersimpuh di kakimu
Semua adalah jurang kenistaanku, tanpa maafmu..
niscaya nista yang akan menerpa hidupku.. Bunda.. maafkanlah !
Sebelum nafasmu berakhir, sebelum maut menjemput
Biarkanku penuhi nafasku dengan do'a untukmu,
biarkan ku penuhi benak jiwaku dengan pengabdian kepadamu
Biarkan ku curahkan segala dayaku untuk kebahagiaanmu
Biarkan aku bersimpuh di kakimu, agar tiada sesal menghantui di jalanku
Biar terbuka pintu maafmu bagiku
Biarkan ku hiba padamu tuk raih ridhamu agar bisa ku raih ridha Illahi
_________________________________________________________

Akhir nafasmu atau ketiadaanmu, bukan ujung dari kasihmu
niscaya.. kaulah yang maha hidup memperpanjang nafasmu
maka kesetiaanmu akan tetus berjalan mendampingi perjuangan hidupku..
Dia adalah jalan Rabbani memulai pergantian generasi
meski tak ada lagi tangan yang membelai rambut ketika gusar melanda
tetapi, memori-memori yang tertanam menjadi jawaban atas gejolak jiwa
Bahkan.. aku kini hidup, dan itulah hidup
Seolah terbangkitkan memori nasehatmu
"Berjuanglah.. karena hidup adalah perjuanganperjuangan melawan gusar dan gundahperjuangan tetap berjalan di jalan yang lurus.."
_________________________________________________________

Nafas yang Allah karuniakan kepadaku,
tak akan cukup membalas nafasmu dalam men-tarbiyahku
Setiap do'aku bagimu, tiada sebanding dengan pengorbananmu
Setiap langkah pengabdianku pada Tuhanku,
adalah pohon yang tumbuh dari benih yang kau siram dan kau pupuk
Kan ku tanam cintaku padamu ditempat terindah dalam hatiku
Agar cintaku pada Allah dan kekasih-Nya terjaga di sana
Semoga langkah hidupku menjadi buah dari pohon keshalehan yang kau tanam dan kau suburkan,
agar kesegaran dan keharumannya tetap mengalir padamu ..
__________________________________________________________

Sedikit Renungan ..
   Terlalu naif kalau ada terbesit bahwa keshalehan ada dalam jiwaku
Hanya Allah saja yang tahu, ada apa di dalam jiwaku!
Kalaupun setitik keshalehan itu tersimpan disana,
Itulah keshalehan yang kau tanam, ibu..
   Sedang diriku,
menyiramnya pun aku tak mampu
Yang ku harap hanyalah;
"Biarkanlah Allah menurunkan cahaya-Nya ke dalam hatiku,
sehingga bisa tersiram benih keshalehan itudan semoga bisa tumbuh subur agar terpenuhi harapan Ibunda hakiki.."
   Hai.. Anak-anak generasi yang telah dibesarkan dalam rangkuhan kasih sayang bunda tercinta..!
Sangatlah tak tahu diri, kalau kemudian pengorban Ibunda tercinta yang demikian besar hanya disemayamkan dalam sebuah nama "Hari Ibu"..
   Kalaupun kita memberikan "cap" Hari Ibu, maka seluruh hari sebenarnya dan seharusnya adalah Hari Ibu,
karena kita semua dilahirkan dari Ibu,
    *Sayangilah ibumu, sebagaima ia menyayangi kita waktu kecil dahulu.. Bahagiakan ia dengan caramu..*

Sumber: Anonim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar